UBB ON The Road
Universitas Bangka Belitung On The Road
UBB On The Road
Mahasiswa UBB Manfaatkan Daun Mensirak Salah Satu Herbal Suku Lom Sebagai Stimulan Kematangan Gonand Ikan Cempedik
Mahasiswa UBB dan Unmuh Babel berupaya Menciptakan Desa Bahtera melalui Program Pemberdayaan Masyarakat oleh Mahasiswa (PMM) di Desa Simpang Tiga
Melalui Kegiatan PMTU, Dosen UBB Tengelamkan Artificial Reefs Berbahan FABA di Pulau Ketawai
Tim PKM-Riset UBB Ubah Tumbuhan Endemik Suku Lom Menjadi Salep yang Berkhasiat Memudarkan Bekas Luka
Tim PMTU UBB Lakukan Inovasi Bahan Dasar Rumput Laut Menjadi Gel Pengharum Ruangan Pengusir Nyamuk Melalui Pemberdayaan Masyarakat
Mahasiswa Kimia UBB Berhasil Manfaatkan Potensi Lokal Sebagai Formulasi Sediaan Plester Hidrogel
Mahasiswa Akuakultur UBB Teliti Ikan Cupang Alam Endemik dan Natif Babel
Melalui Proyek Independen, Mahasiswa UBB Ciptakan Mesin Perontok Debu Karpet Otomatis
Prodi MSP dan IKL UBB Lakukan Penelitian Besrsama di Lepar Pongok
Mahasiswa Agroteknologi UBB Lakukan Riset Potensi Mikroba Pengurai Protein yang Diisolasi dari Bulu Ayam Lapuk
Peningkatan Kemampuan Bahasa Inggris Melalui Pengembangan Media Pembelajaran Inovatif di SDN 23 Pangkalpinang Oleh Tim MBKM Riset
Berita UBB
Pencanangan Zona Integritas, Wujudkan Perguruan Tinggi Bebas Korupsi dan Birokrasi Bersih Melayani
Gelar Seminar Hari Buku Nasional 2024, Himagi UBB Bangun Budaya Literasi di Era Digital
Siswa SPN POLDA Babel Kunjungi UBB
Prof Ibrahim Kembali Dilantik Menjadi Rektor UBB Periode 2024-2028
Event Genzee : Gelar Karya Proyek Mahasiswa Melalui Mata Kuliah Pendidikan Pancasila UBB
Sosialisasikan Kampus Mengajar 8, UBB Hadirkan Langsung Pembicara dari Kementerian
UBB On The Road
Universitas Bangka Belitung On The Road
31 Juli 2008 | 07:31:01 WIB
Menyimak Tradisi Bulan Tujuh Musim Kawin di Bangka Belitung
Mendekati bulan Juli masyarakat di Bangka Belitung mengenal istilah “Bulan Tujuh Musim Kawin“.
Istilah itu muncul dari salah satu bentuk kebiasaan dan budaya yang berlangsung cukup lama dan menjadi keunikan tradisi budaya masyarakat Bangka Belitung itu sendiri.
Mengapa bulan Juli disebut musim kawin ?
Sebenarnya, hal ini lebih berkaitan pada adanya masa panen kebun para penduduk (umumnya berkebun Lada) yang bertepatan pada bulan Juni s/d Agustus setiap tahunnya. Pola tanam lada di Bangka Belitung yang teratur membuat siklus panen pun dapat terjadi secara massal. Dengan adanya pendapatan penghasilan dari panen lada, banyak masyarakat Bangka Belitung yang melangsungkan pernikahan pada bulan-bulan tersebut, khususnya bulan Juli yang menjadi puncak panen lada.
Budaya kawin massal di Bangka Belitung lebih sering terjadi di daerah Bangka bagian Selatan. Biasanya dalam satu kampung, terdapat banyak pasangan muda mudi yang melangsungkan acara perkawinan secara bersamaan. Bahkan kadang kala mencapai 15 – 20 pasang pengantin yang dinikahkan dalam sehari.
Budaya ini amat popular dan menjadi salah satu bentuk hubungan kemasayarakatan yang erat. Betapa tidak, untuk mengadakan acara ini seluruh masyarakat bahu membahu untuk saling bekerjasama dalam mensukseskannya. Mulai dari acara akad nikah, perayaan /walimah sampai dengan berbagai acara lainnya.
Sekitar tahun 1992 – 1995 acara serupa masih sering dilaksanakan. Bahkan ada pasangan yang menikah sebanyak 10 pasang dengan dimeriahkan oleh beberapa Grup Band (grup musik) lokal maupun luar.
Jika anda ke kampung itu saat acara berlangsung, maka dari awal masuk kampung sampai ke ujung kampungnya anda akan menemui pesta perkawinan yang sangat meriah. Berbagai hiburan musik tersaji di berbagai tempat bahkan dimana-mana terdapat pasar malam. Acara seperti itu sering dijadikan oleh kaum remaja untuk mencari pacar ataupun jodoh.
Namun seiring menurunnya sektor perkebunan lada di bangka belitung dewasa ini, budaya dan tradisi seperti itu sudah jarang sekali terjadi. Hal ini diakibatkan dengan meningkatnya biaya untuk berkebun lada tidak sebanding dengan harga jual lada. Sehingga minat masyarakat untuk berkebun lada pun merosot tajam. Apalagi munculnya sektor pertambangan timah rakyat (Tambang Inkonvesional) beberapa tahun belakangan ini membuat sebagian masyarakat beralih dari perkebunan ke bidang pertambangan.
Mengingat masa lalu, orang-orang di kepulauan Bangka Belitung ini jadi rindu akan meriahnya suasana dengan acara Kawin Massal itu. Entah kapan lagi acara serupa akan berlangsung di Bangka Belitung ini.
written by : DIDI di dukunbesar.com
UBB Perspective
FAKTOR POLA ASUH DALAM TUMBUH KEMBANG ANAK
MEMANFAATKAN POTENSI NUKLIR THORIUM DI KEPULAUAN BANGKA BELITUNG : PELUANG DAN DAMPAK LINGKUNGAN
Pengaruh Sifat Fisika, Kimia Tambang Timah Terhadap Tingkat Kesuburan Tanah di Bangka Belitung
Akuntan dan Jurnalis: Berkolaborasi Dalam Optimalisasi Transparan dan Pertanggungjawaban
Sustainable Tourism Wisata Danau Pading Untuk Generasi Z dan Alpa
Perlunya Revitalisasi Budaya Lokal Nganggung di Bangka Belitung
Semangat PANDAWARA Group: Dari Sungai Kotor hingga Eksis di Media Sosial
Pengaruh Pembangunan Produksi Nuklir pada Wilayah Beriklim Panas
Pendidikan dan Literasi: Mulailah Merubah Dunia Dari Tindakan Sederhana
Mengapa APK Perguruan Tinggi di Babel Rendah ?
Dekonstruksi Cara Pikir Oposisi Biner: Mengapa Perlu?
PENINGKATAN KUALITAS PELAYANAN PUBLIK DENGAN ASAS GOOD GOVERNANCE
UMP Bangka Belitung Naik, Payung Hukum Kesejahteraan Pekerja atau Fatamorgana Belaka?
